agen bola online agen poker online
Shalat Ied - Cheater251 | Free Download Cheat LostSaga, PointBlank, First Blood 2017

Shalat Ied

Fast Download
Shalat Ied - Hallo sahabat Cheater251 | Free Download Cheat LostSaga, PointBlank, First Blood 2017, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Shalat Ied, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Brosur MTA, Artikel Shalat Ied, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Shalat Ied
link : Shalat Ied

Baca juga


Shalat Ied

Fast Download


Ahad, 23 Nopember 2003/28 Ramadlan 1424 Brosur nomor : 1203/1243/IF



Adab Mengerjakan Shalat 'Ied dan Sunnah-sunnahnya



1. Mandi Dahulu



قَالَ النَّبِيُّ ص يَا مَعْشَرَ اْلمُسْلِمِيْنَ، اِنَّ هذَا (يَوْمَ اْلجُمُعَةِ) يَوْمٌ جَعَلَهُ اللهُ تَعَالَى عِيْدًا فَاغْسِلُوْا. مالك





Bersabda Nabi SAW, "Hai kaum Muslimin, hari (Jum'ah) ini adalah satu hari yang Allah Ta’ala jadikan hari raya. Karena itu hendaklah kamu mandi". [HR. Malik]





Keterangan :

Menurut hadits tersebut, hari Jum'ah dipandang sebagai hari raya dan kita disuruh mandi padanya. Dengan demikian dapat difaham, bahwa mandi pada hari raya adalah lebih utama.





2. Berpakaian Dengan Pakaian Yang Baik, Bila ada





رُوِيَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِى كُلّ عِيْدٍ. الشافعى





Diriwayatkan bahwasanya Nabi SAW biasa memakai kain buatan Yaman pada tiap-tiap hari raya. [HR. Syafi'i dalam Nailul Authar]





3. Makan Sebelum Berangkat





قَالَ بُرَيْدَةُ، كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص لاَ يَغْدُوْ يَوْمَ اْلفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَ لاَ يَأْكُلُ يَوْمَ اْلاَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ. الدارقطنى و ابن ماجه و الترمذى





Telah berkata Buraidah, "Biasanya Rasulullah SAW tidak pergi Shalat Hari Raya 'Iedul Fithri melainkan sesudah makan. Dan pada Hari Raya 'Iedul Adha beliau tidak makan kecuali sesudah kembali dari shalat". [HR. Daruquthni, Ibnu Majah dan Tirmidzi dalam Nailul Authar]





4. Mengambil Dua Jalan





قَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا خَرَجَ اِلَى اْلعِيْدِ يَرْجِعُ فِىْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ فِيْهِ. احمد و مسلم و الترمذى فى نيل الاوطار





Telah berkata Abu Hurairah, "Biasanya Nabi SAW apabila keluar untuk Shalat Hari Raya, beliau kembali dengan mengambil jalan lain dari yang telah dilalui waktu pergi". [HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi dalam Nailul Authar]





5. Waktu dan Tempat Takbir Hari Raya





قَالَ الزُّهْرِيُّ:كَانَ النَّبِيُّ ص يَخْرُجُ يَوْمَ اْلفِطْرِ فَيُكَبّرُ مِنْ حِيْنِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَأْتِيَ اْلمُصَلَّى. ابو بكر، مرسل فى نيل الاوطار





Telah berkata Az-Zuhriy, "Bahwasanya Nabi SAW keluar untuk shalat Hari Raya 'Iedul Fithri dengan takbir mulai dari rumahnya hingga tiba ditempat shalat". [HR. Abu Bakar, mursal dalam Nailul Authar]





قَالَ ابْنُ عُمَرَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ وَ التَّهْلِيْلِ حِيْنَ خُرُوْجِهِ اِلَى اْلعِيْدِ يَوْمَ اْلفِطْرِ حَتَّى يَأْتِيَ اْلمُصَلَّى. البيهقى و الحاكم، في نيل الاوطار، ضعيف موقوف





Telah berkata Ibnu Umar, "Bahwasanya Nabi SAW bertakbir dan bertahlil dengan suara keras ketika keluar pergi shalat hari Raya 'Iedul Fithri hingga tiba di tempat shalat". [HR. Baihaqi dan Hakim, Dlaif, mauquf dalam Nailul Authar]





قَالَ النَّبِيُّ ص:زَيّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْرِ.الطبراني، غريب، في نيل الاوطار





Nabi SAW bersabda, "Hiasilah Hari Raya-Hari Raya kamu dengan takbir". [HR. Thabrani, Gharib, dalam Nailul Authar]





Waktu dan Tempat Bertakbir Hari Raya Menurut Hadits yang Shahih





قَالَتْ اُمُّ عَطِيَّةَ: اَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ نُخْرِجَهُنَّ فيِ اْلفِطْرِ وَ اْلاَضْحَى اْلعَوَاطِقَ وَ اْلحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ اْلخُدُوْرِ، فَاَمَّا اْلحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ. مسلم





Telah berkata Ummu 'Athiyah, "Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk membawa keluar anak-anak perempuan yang hampir baligh, perempuan-perempuan haidl dan anak-anak perempuan yang masih gadis, pada Hari Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adha. Adapun wanita-wanita yang haidl itu mereka tidak shalat". [HSR. Muslim]





و للبخاري قَالَتْ اُمُّ عَطِيَّةَ: كُنَّا نُؤْمَرُ اَنْ نُخْرِجَ اْلحُيَّضَ فَيُكَبّرْنَ بِتَكْبِيْرِهِمْ. في نيل الاوطار





Dan bagi Imam Bukhari, Ummu 'Athiyah berkata, "Kita diperintahkan supaya membawa keluar wanita-wanita haidl lalu bertakbir bersama-sama dengan orang banyak". [Dalam Nailul Authar]





Dari hadits shahih di atas dapat kita fahami bahwa takbir Hari Raya itu dilaksanakan pada waktu tiba di tempat shalat sampai berdirinya shalat.





6. Waktu Shalat Hari Raya





قَالَ جُنْدَبٌ:كَانَ النَّبِيُّ ص يُصَلّى بِنَا يَوْمَ اْلفِطْرِ وَالشَّمْسُ عَلَى قَيْدِ رُمْحَيْنِ وَ اْلاَضْحَى عَلَى قَيْدِ رُمْحٍ. احمد بن حسن، في نيل الاوطار





Telah berkata Jundab, "Adalah Nabi SAW shalat Hari Raya 'Iedul Fithri bersama kami di waktu matahari tingginya sekadar dua batang tombak dan beliau shalat Hari Raya 'Iedul Adha diwaktu matahari tingginya sekadar satu batang tombak". [HR. Ahmad bin Hasan dalam Nailul Authar]





Keterangan :





Menurut riwayat di atas, waktu shalat Hari Raya 'Iedul Adha itu lebih pagi daripada waktu shalat Hari Raya 'Iedul Fithri.





7. Shalat Sebelum Khutbah





قَالَ ابْنُ عُمَرَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ اَبُوْ بَكْرٍ وَ عُمَرُ يُصَلُّوْنَ اْلعِيْدَيْنِ قَبْلَ اْلخُطْبَةِ. البخارى





Telah berkata Ibnu Umar, "Biasanya Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar shalat dua Hari Raya sebelum khutbah". [HR. Bukhari]





Maksudnya : Rasulullah SAW dan shahabat-shahabatnya mengerjakan shalat 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adha sebelum khutbah.





8. Shalat Hari Raya Tanpa Adzan dan Iqamah





قَالَ جَابِرُ بْنُ سَمُرَةَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيّ ص اْلعِيْدَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ اَذَانٍ وَ لاَ اِقَامَةٍ. مسلم





Telah berkata Jabir bin Samurah, "Saya shalat Hari Raya bersama Rasulullah SAW bukan hanya sekali atau dua kali, (semuanya) tanpa adzan dan iqamah". [HSR. Muslim]





Maksud dari riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW shalat Hari Raya 'Iedul Fithri dan Hari Raya 'Iedul Adha tanpa adzan dan iqamah.





9. Hari Raya Pada Hari Jum'ah





قَالَ النَّبِيُّ ص: اِجْتَمَعَ فيِ يَوْمِكُمْ هذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ اَجْزَأَهُ مِنَ اْلجُمُعَةِ وَ اِنَّا مُجَمّعُوْنَ. ابو داود و ابن ماجه





Nabi SAW bersabda, "Telah terhimpun pada hari ini dua hari raya (hari Raya dan Jum'ah). Maka barangsiapa mau, cukuplah shalat ini buat dia, tidak perlu lagi shalat Jum'ah, tetapi kami tetap akan mendirikan shalat Jum'ah". [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]





10. Shalat dan Khutbah di Tanah Lapang





رُوِيَ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّهُمْ اَصَابَهُمْ مَطَرٌ فيِ عِيْدٍ فَصَلَّى بِهِمُ النَّبِيُّ ص صَلاَةَ الْعِيْدِ فيِ اْلمَسْجِدِ. ابو داود





Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya pada suatu hari Raya mereka telah kehujanan,maka Nabi SAW mengerjakan shalat Hari Raya bersama mereka di masjid. [HR. Abu Dawud]





Keterangan :





Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, menurut derajatnya hadits ini Layyin (lemah).





Menurut kebiasaan memang Nabi SAW mengerjakan shalat dan khutbah hari Raya di tanah lapang. Tetapi hal itu tidak menunjukkan kepada hukum wajib. Sesuatu perbuatan bisa menunjukkan kepada hukum wajib jika disertai dengan perintah.





Kebanyakan ulama memandang bahwa Nabi SAW mengerjakan yang demikian itu bukan karena tidak shah dikerjakan di masjid, tetapi karena tak cukup tempat di masjid, sebab pada waktu itu orang-orang yang berkumpul pada hari Raya lebih banyak dari pada hari-hari yang lain.





Dari seluruh pembicaraan tersebut, nyatalah bahwa shalat Hari Raya di masjid itu tidak terlarang, apalagi jika turun hujan atau lain-lain halangan. Oleh karena itu perkataan Abu Hurairah tadi walaupun lemah riwayatnya tetapi shahih maknanya. Perlu dijelaskan bahwa Rasulullah biasa shalat di tanah lapang itu diambil dari perkataan Mushalla yang artinya sebagai berikut :





اَلْمُصَلَّى مَوْضِعٌ بِبَابِ اْلمَدِيْنَةِ الشَّرْقِيّ. فقه السنة





"Mushalla itu adalah suatu tempat di pintu gerbang Madinah sebelah timur". [Fiqhus Sunnah]





اَلْمُصَلَّى مَوْضِعٌ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلمَسْجِدِ اَلْفَ ذِرَاعٍ. فقه السنة





"Mushalla itu tempatnya sejauh 1.000 hasta dari masjid Madinah" [Fiqhus Sunnah]





Jadi jelaslah bahwa Rasulullah SAW jika shalat Hari Raya itu di tanah lapang.





11. Takbir Dalam Shalat pada Dua Hari Raya





Takbir shalat pada dua Hari Raya (Hari Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adha), dilaksanakan dengan 7 kali pada rekaat pertama, dan 5 kali pada rekaat yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah.





Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW maupun perbuatan para shahabat. Diriwayatkan oleh Abu Dawud :





عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ قَالَ:قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: اَلتَّكْبِيْرُ فيِ اْلفِطْرِ سَبْعٌ فيِ اْلاُوْلَى وَ خَمْسٌ فيِ اْلآخِرَةِ وَ اْلقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا. ابو داود





Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, ia berkata : Nabi Allah SAW bersabda, “Takbir pada (shalat) "Iedul Fithri adalah 7 kali di rekaat pertama dan 5 kali di rekaat yang akhir (kedua) dan ada bacaan sesudah kedua-duanya itu". [HR. Abu Dawud]





Tentang Atsar (Perbuatan) para Shahabat, diriwayatkan :





عَنْ نَافِعٍ مَوْلىَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّهُ قَالَ: شَهِدْتُ اْلاَضْحَى وَ اْلفِطْرَ مَعَ اَبِى هُرَيْرَةَ فَكَبَّرَ فيِ الرَّكْعَةِ اْلاُوْلىَ سَبْعُ تَكْبِيْرَاتٍ قَبْلَ اْلقِرَاءَةِ وَ فيِ اْلآخِرَةِ خَمْسُ تَكْبِيْرَاتٍ قَبْلَ اْلقِرَاءَةِ. مالك





Dari Nafi', maula Abdullah bin 'Umar, bahwa dia berkata, "Aku pernah menyaksikan 'Iedul Adha dan 'Iedul Fithri bersama Abu Hurairah. Maka ia bertakbir di rekaat pertama 7 takbir sebelum membaca, dan di rekaat kedua 5 takbir sebelum membaca". [HR. Malik]





عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يُكَبّرُ فيِ اْلعِيْدَيْنِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيْرَةً. سَبْعٌ فيِ اْلاُوْلىَ وَ خَمْسٌ فيِ اْلآخِرَةِ. البيهقى





Dari 'Atha', ia berkata, "Adalah Ibnu 'Abbas bertakbir di dua Hari Raya 12 takbir, yaitu 7 di rekaat pertama dan 5 di rekaat yang kedua". [HR. Baihaqi]





12. Bacaan Takbir Hari Raya





Bacaan Takbir pada hari Raya yang bersumber dari shahabat Umar dan Ibnu Mas'ud adalah :





اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ اْلحَمْدُ. فى نيل الاوطار 3:358، فقه السنة 1:275





(Alloohu Akbar, Alloohu Akbar, Laa ilaaha illalloohu walloohu Akbar Alloohu Akbar wa lillaahi-lhamdu).





Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainkan Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan kepunyaan Allah-lah segala pujian. [Dalam Nailul Authar juz 3 hal. 358, Fiqhus Sunnah juz 1 hal. 275]





13. Ucapan Pada Hari Raya





Para shahabat Nabi SAW jika bertemu di antara mereka pada Hari Raya, mereka mengucapkan :





تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ





"Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kamu"





Jubair bin Nufair meriwayatkan :





كَانَ اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص اِذَا تَلَقَّوْا يَوْمَ اْلعِيْدِ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ. جبير بن نفير





Para shahabat Rasulullah SAW jika bertemu satu dengan yang lain pada Hari Raya saling mengucapkan :





تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ





(Taqobbalalloohu minnaa wa minkum).





"Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kamu". [HR. Jubair bin Nufair]
Fast Download


Demikianlah Artikel Shalat Ied

Sekianlah artikel Shalat Ied kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Shalat Ied dengan alamat link http://cheatterbaru2.blogspot.com/2016/02/shalat-ied.html